Sudah hampir 2 minggu berlalu. Masih berat rasanya untuk menceritakan ini, tapi disimpan terlalu lama juga tidak sehat untuk kesehatan mental diri. Tadi niatnya ingin sabar menunggu untuk menceritakan keberhasilan dari program bayi tabung yang dijalani, karena memang berhasil... menunggu untuk menceritakan kabar gembira sampai si janin menunjukkan dirinya...tapi takdir berkata lain..
Mungkin aku belum bisa menceritakan secara mendetail proses hari per hari nya pasca bayi tabung (mungkin informasinya bisa berguna bagi siapa yang ingin menjalaninya juga), karena perasaan yang dirasakan saat itu seperti roller coaster, dari berusaha tidak memikirkan, berdebar, sedih, bahagia, berdebar lagi kemudian sedih, dan numb...mati rasa.
Dimulai dari hari ke-8 setelah ET (embrio transfer). Sudah beberapa hari istirahat di rumah setelah proses ET dan berusaha tidak memikirkannya. Tiba-tiba hari Selasa siang, setelah dari kamar mandi untuk BAK, meilhat ada flek coklat di celana dalam. Berusaha tidak panik, tapi tetap menghubungi dokter melalui WA. Berusaha bertanya dengan nada normal, tapi jawaban yang didapat justru membuat jantung berhenti. Kata dokternya itu pertanda tidak bagus. Kemudian dokter menyuruh untuk membeli obat pennguat kandungan di apotek terdekat. Masih berusaha tidak panik dan tidak terburu-buru mengabarkan abang mengenai berita ini sampai dia pulang dari kantor. Ketika dia sudah pulang pun aku tidak terburu-buru mengabarkan kabar tidak enak ini, setelah dia sempat bernafas setelah pulang kantor, baru aku pelan-pelan mengatakan untuk minta diantarkan ke apotek untuk beli obat. Barulah aku menceritakan kepada abang apa yang terjadi. Alhamdulillah dia tidak terlihat panik atau kecewa, tapi menuruti untuk mengantarkan ke apotek. Abang sempat menawarkan dia saja yang pergi supaya aku tidak banyak bergerak, tapi karena resepnya dikirim melalui WA, dan aku juga terlalu gugup untuk diam saja di rumah, aku memilih untuk tetap ikut dengan alasan apabila banyak pertanyaan dari apoteker, lebih mudah jika aku sendiri yang menjelaskan. Benar saja, obatnya agak susah didapat di apotek biasa plus resepnya hanya melalui WA. Tapi sebelum putus asa, ada apotek kecil satu lagi yang didatangi, dan ternyata mereka ada obatnya dan tidak masalah dengan resepnya yang hanya melalui WA. Sebelum menemukan obatnya sempat menghubungi dokter lagi, karena merasa khawatir akhirnya aku minta dimajukan kontrolnya yang seharusnya hari Jumat jadi hari Rabu.
Hari Rabu tiba. Pergi ke RS sendiri naik taksi karena suami tidak bisa bolos dari pekerjaan. Hati sudah merasa tidak enak. Setibanya di RS, ketemu dokter, periksa, dan hasilnya tidak bagus. Ketika USG transvaginal terdapat flek coklat cukup banyak dan hampir mnyerupai darah. Dokter dan suster sudah pesimis. Aku tetap disuruh minum obat penguat kandungan, tapi obat yang melalui vagina tidak perlu dipakai lagi (dengan kata lain sebegitu pesimisnya dokter akan keberhasilan untuk kehamilan). Disuruh tes darah hari Jumat untuk memastikan hamil atau tidaknya. Begitu keluar dari klinik, kaki langsung lemas. Waktu itu masih di bulan puasa, dan karena aku keluar flek itu jadi tidak puasa, tapi rasanya seperti sedang puasa lemasnya. Duduk sebentar di coffee shop dan menelpon suami lalu kakak yang juga dokter, dan kemudian menangis sendiri....pulang sendiri dengan hati dan badan yang lemas.
Selama menunggu tibanya hari Jumat, tiada henti aku memohon doa, membaca Al-Quran, tahajud, dhuha, dan terus memohon kepada Allah untuk rahim dan kandungan ini dikuatkan sehingga aku berhasil hamil.
Lalu, doa itu terjawab.
Melihat hasilnya, masih belum paham, apalagi ada keterangan di sampingnya (dengan pemahaman sendiri) bahwa hasil aku belum mencapai untuk usia kehamilan, sempet menangis...tapi sambil WA ke dokter dan mengirim hasilnya ini. Dan jawaban dokter.."kalau dilihat dari hasilnya hamil." Lalu aku disuruh ke RS untuk mengeceknya. Suami begitu pulang kantor langsung mengantarkan aku ke RS. Dan hasilnya setelah diperiksa, Alhamdulillah memang hamil, dan sudah masuk uk 4 minggu, tapi flek masih keluar jadi disuruh bed rest. Tidak boleh jalan-jalan dulu, ketemu orang banyak apalagi stress. Jadi ketika lebaran tiba, terpaksa diam di rumah dan tidak bisa sholat Id ataupun berkumpul dengan keluarga, dan kue kering pesanan yang sudah diterima pun terpaksa dibatalkan. Judulnya tidak bisa kemana-mana dan melakukan apa-apa sampai pemeriksaan berikutnya tgl 18 Juni, sehari sebelum ulang tahun.
Dan...untuk membuktikan kepada diri sendiri bahwa aku memang hamil, akhirnya memberanikan diri untuk test pack, setelah bertahun-tahun selalu mendapatkan satu garis dari hasilnya yang selalu membuat kecewa dan frustasi.
Hasilnya dua garis, melihatnya rasanya tidak tergambarkan perasaan saat itu. Tapi perjuangan masih panjang, tidak mau sombong dulu ataupun merasa lega. Masih banyak rintangan yang harus dihadapi. Sempat kelelahan karena meskipun tidak boleh kemana-mana, tapi namanya lebaran, tidak ada pembantu, kakak dan tante sedang pergi ke Malaysia, jadi tidak bisa bagi tugas dengan urusan rumah. Sementara tidak bisa membiarkan rumah kotor karena tidak baik juga untuk kesehatan diri dan calon janin. Dan meminta pengertian keluarga juga untuk tidak datang berkunjung dulu, karena nanti bukannya senang malah stress karena harus membersihkan rumah dan melayani dengan ekstra.
Seminggu sudah terlewati, dan rasa mual dan pusing sudah mulai timbul. Tiba harinya kontrol ke dokter. Paginya periksa darah, dan setelah keluar hasil lalu langsung ke dokter. Alhamdulillah, hasilnya baik dan menunjukkan perkembangan, terlihat dinding rahim menebal. Dilihat dari hasil USG, katanya aku sudah masuk 6 minggu dan sudah terlihat yolk sac nya, bahkan dokter sempat curiga bayinya kembar.. Tapi hasil USG nya masih disimpan, katanya biar dimasukkan ke dalam agenda kehamilan.
Kemudian tiba hari ulang tahun, paginya suami mengantarkan ke kuburan mama...sedih dan kangen rasanya tapi aku tetap ingin menyampaikan kabar gembira ini, I wish she were here with me. Lalu sempat merayakan ultah kecil-kecilan bersama suami dan kakak laki-laki beserta keluarganya, dua keponakanku yang lucu dan juga obat buat rasa khawatir aku, dan terus terang aku saat itu benar-benar kangen mama dan butuh wajah yang mirip dengannya. Setelah beberapa minggu dikurung di rumah terus, bisa merasakan sedikit angin mall..walaupun tubuh memang tidak terlalu fit untuk jalan-jalan, tapi untuk menghibur aku suami mengajak nonton, habis itu kita pulang. Tidak lupa bersyukur dan berdoa kepada Allah betapa indahnya kado yang diberikan oleh-Nya. Akhirnya aku bisa hamil...
Namun, satu minggu berlalu. Meskipun sudah tahu hamil dan merasakan mual, muntah dan pusing yang amat sangat tidak mengenakkan...dalam hati masih ada yang mengganjal...selama kehamilan itu abang pernah bertanya sekali dua kali untuk mengumumkannya melalui medsos, tapi aku bilang nanti saja, tunggu sampai janinnya benar-benar terlihat berdetak jantungnya...aku tidak tahu apakah saat itu aku sudah tahu dalam hati tapi tidak menyadarinya...bahwa semua ini dapat cepat berlalu...
Setelah acara aqiqah keponakan baru dari sepupu dua hari sebelumnya yang di sana akhirnya aku bertemu keluarga besar dan dapat mengatakan secara langsung bahwa aku hamil, semua mendoakan yang baik. Tapi takdir tidak dapat dihindari, ketika kontrol lagi hari Senin, di USG, dokter mengatakan kehamilan aku sudah masuk 7 minggu, tapi janin belum terlihat. Dokter langsung mengatakan bahwa aku telah gagal hamil. Dan saat itu rasanya dunia berhenti berputar. Suami kaget, tapi masih belum bisa menerima. Aku menangis karena aku mempercayai apa kata dokter, tapi masih denial dan mencari kemungkinan lain.
Keesokan harinya pergi ke RS lain, ke dokter kandungan spesialis untuk kandungan bermasalah, dan yang masih om aku sendiri. Hasilnya tetap sama. Janin tidak terlihat. Aku divonis blighted ovum.
Setelah berusaha bertahan hampir seminggu, berdoa dan memohon kepada Allah dan berusaha meyakinkan diri bahwa mau lihat lagi di usia kandungan 9 atau 10 minggu janin akan terlihat, karena baca-baca pengalaman orang lain hal itu mungkin saja terjadi. Namun, tubuh sepertinya tidak mendukung, rasa mual makin parah, muntah-muntah tidak tertahankan ditambah sakit kepala yang luar biasa, akhirnya hari Sabtu minta ketemu dokter lagi. Hari itu adalah hari ulang tahun almarhumah mama, aku mendapatkan konfirmasi...kantung kehamilan sudah melebar atau bentuknya sudah tidak sempurna lagi sehingga tidak bisa diukur lagi usia kandungannya.
Saat itulah vonis terakhir aku...dokter sudah memberikan surat pengantar untuk melakukan kuret. Dan disarankan untuk segera dilakukan untuk menghindari infeksi.
Aku sudah mulai mati rasa. Dikatakan ikhlas dan pasrah...tapi aku tidak bisa merasakannya...hari kuret sudah ditentukan hari Rabu tanggal 11 Juli dimana suami bisa mengambil cuti dan menemni seharian.
Hari Rabu tiba, ke RS jam 7 pagi, mengambil fasilitas one day care, setelah operasi langsung pulang. Kakak-kakak datang menemani, mama mertua, tante, semuanya menemani seharian hingga operasi selesai. Sebelum dan sesudah operasi hati tidak merasakan apa-apa. Operasi dilaksanakan jam 2 siang. Sempat takut menghadapi prosesnya yang seharusnya diinduksi dulu, tapi Allah masih melindungi, rasa sakit itu tidak ada, dan proses dipercepat. Saat itu aku hanya berpikir dalam hati..sudah berapa kali aku masuk dalam ruang operasi dan dibius...dan aku hanya bisa berzikir hingga terbangun lagi dan masih dalam keadaan berzikir... Dan semuanya berakhir...
Mungkin Allah ada rencana lain untuk aku dan suami...mungkin kebahagiaan itu masih ada dalam bentuk lain...tapi aku masih belum bisa merasakannya saat ini...
Dan di saat inilah aku sangat membutuhkan almarhumah mama...aku kangen mama...



